Pengertian Gaya Bahasa

Pengertian Gaya Bahasa

Dalam membaca sebuah cerita dari satu ke buku yang lainnya pasti memiliki perbedaan dari gaya bahasa si pengarang dalam menuliskan isi ceritanya. Ada gaya bahasa yang mudah dimengerti, ada pula yang perlu dipikir terlebih dahulu karena pengemasan ceritanya. Lalu apa sih sebenarnya pengertian gaya bahasa itu?

Memahami pengertian gaya bahasa beserta jenis-jenisnya akan membantu Anda untuk lebih memahami karakter si pengarang. Dengan memahami gaya bahasa, Anda juga bisa mengetahui macam-macam gaya bahasa yang ada.

Untuk lebih jelasnya simak ulasannya di bawah ini.

Pengertian Gaya Bahasa

Cara bagaimana seorang pengarang menguraikan cerita yang dibuatnya disebut dengan gaya bahasa. Jadi secara jelasnya, gaya bahasa adalah cara bagaimana seorang pengarang mengungkapkan isi ceritanya lewat bahasa-bahasa yang khas sehingga menimbulkan kesan pada pembacanya.

Berikut ini adalah jenis-jenis gaya bahasa dalam bahasa majas  :

1. Gaya bahasa pertentangan

a. Hiperbola

Gaya bahasa menyatakan sesuatu secara berlebihan dari kenyataan yang ada dengan maksud untuk memberikan kesan yang mendalam atau meminta perhatian disebut dengan hiperbola.

Contoh: Ani berteriak-teriak sampai suaranya menembus langit ke-7.

b. Litotes

Gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan cara-cara yang berlawanan dengan kenyataan, entah dengan cara mengecilkan ataupun menguranginya disebut dengan litotes.

Contoh:  Saya memang tidaklah pintar itulah mengapa saya selalu bekerja keras.

c. Paradoks

Gaya bahasa yang bertentangan antara pernyataan dan fakta sehingga seperti tidak masuk akal dinamakan paradoks.

Contoh: Entah mengapa Adit selalu merasa kesepian di kota yang seramai ini.

d. Antitesis

Gaya bahasa yang pengungkapannya berhubungan dengan situasi, benda ataupun sifat yang keadaannya saling bertentangan serta memakai kata-kata yang memiliki arti berlawanan disebut dengan antitesis.

Contoh:  Baik tua muda, laki-laki perempuan banyak yang suka datang ke tempat wisata ini.

Pengertian Gaya Bahasa

2. Gaya Bahasa Sindiran

a. Ironi atau sindiran halus

Gaya bahasa yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud yang digunakan untuk menyindir seseorang tapi dengan cara yang halus dinamakan ironi.

Contoh : Rajin sekali kamu masuk kuliah, sampai keterangan tidak hadirmu banyak sekali di absensi.

b. Sinisme

Gaya bahasa sindiran lebih kasar dari gaya bahasa ironi, yakni dengan cara menyindir secara langsung kepada orang lain disebut sinisme.

Contoh : Kelakuan Iwan tadi sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang mahasiswa berprestasi

c. Sarkasme

Gaya bahasa sindiran yang sangat kasar, terkadang dapat menyakitkan hati dinamakan sarkasme.

Contoh: Becus kerja ngga sih? Segini aja lama sekali mengerjakannya!

3. Gaya Bahasa Penegasan

a. Inversi

Gaya bahasa yang kalimat predikatnya berada di depan subjek kalimat tersebut dinamakan inversi.

Contoh: Besar sekali rumahnya.

b. Retoris

Gaya bahasa yang kalimat tanya tidak bertanya, kalimat yang menyatakan kesangsian ataupun bersifat mengejek disebut dengan retoris.

 Contoh :  Memang masih berguna kata-kata yang kau ucapkan itu?

c. Paralelisme

Gaya bahasa yang pengulangan kata-katanya digunakan untuk penegasan dalam bahasa puisi paralelisme.

Contoh : Manusia itu harus senantiasa bersyukur baik dalam kesusahan ataupun kesenangan.

d. Enumerasio

Gaya bahasa yang digunakan untuk melukiskan suatu keadaan dengan cara diuraikan satu persatu keadaan tersebut dan menjadi keseluruhan kalimat yang utuh disebut dengan enumerasio.

Contoh : Malam ini nampak sempurna ditemani senyuman sang rembulan dan hembusan sepoi angin yang mengabarkan salam dari kekasih hati

e. Koreksio

Gaya bahasa yang membetulkan kembali ucapan yang tidak benar atau salah, baik disengaja ataupun tidak disengaja dinamakan koreksio.

Contoh: Tadi Kakak baru saja pulang, oh… bukan kakak baru saja berangkat lagi.

f. Repetisi

Gaya bahasa yang pengulangan kata-katanya dalam bahasa prosa dinamakan repetisi.

Contoh: Tim basket kita menang, tim kita juara, tim kita angkat piala.

g. Klimaks

Gaya bahasa yang penguraian peristiwanya disajikan secara berturut-turut dan semakin lama ceritanya semakin memuncak disebut dengan klimaks.

Contoh: Semua kalangan dari usia 9 sampai 22 beramai-ramai mengikuti kompetisi sepak bola.

h. Anti klimaks

Gaya bahasa yang penguraian suatu peristiwanya disajikan secara berturut-turut namun ceritanya semakin lama semakin menurun disebut dengan anti klimaks. Nah, antiklimaks adalah kebalikan dari gaya bahasa klimaks.

Contoh:  Guru-guru dan seluruh orang tua siswa Semarang menghadiri acara kelulusan SMAN 2.

i. Pleonasme

Gaya bahasa yang kata-katanya diucapkan secara berlebihan demi untuk menegaskan arti dari suatu kata disebut dengan pleonasme.

Contoh:  Para suporter menerobos ke dalam stadion untuk menyaksikan pertandingan timnas U-19.

j. Eksklamasio

Gaya bahasa yang didalam kalimatnya memakai kata seru dinamakan eksklamasio.

Contoh: Wah…, keren sekali ya Dimas!

k. Tautologi

Gaya bahasa yang mengulang beberapa kali sepatah kata dalam suatu kalimat dinamakan tautologi.

Contoh: Mungkin, mungkin Ria bisa berhasil dalam melaksanakan tugasnya.

4. Gaya bahasa perbandingan

a. Asosiasi atau perumpamaan

Gaya bahasa yang perbandingan terhadap 2 hal yang maksudnya berbeda, akan tetapi sengaja dianggap sama dinamakan asosiasi.

Contoh: Wajah Irene cantik sekali bagaikan rembulan

b. Metafora

Gaya bahasa yang dalam cara mengungkapkan kalimatnya dilakukan secara langsung dengan perbandingan analogis dinamakan metafora.

Metafora adalah penggunaan kelompok kata dalam kalimat yang memiliki arti bukan sesungguhnya, tapi sebagai perbandingan atau persamaan saja.

Contoh: Si jago merah sudah membumi hanguskan pasar Johar  itu hanya dalam waktu setengah jam saja.

c. Personifikasi

Gaya bahasa yang memberikan karakteristik atau sifat-sifat manusia kepada benda yang tidak hidup dinamakan personifikasi.

 Contoh: Siang ini awan meneteskan air matanya.

d. Alegori

Gaya bahasa yang menyatakan suatu peristiwa namun dikemas dengan menggunakan cara  kiasan ataupun penggambaran dinamakan alegori. Alegori berbentuk suatu cerita yang penuh dengan simbol-simbol yang bermuatan nilai moral.

Contoh : Hidup itu seperti air yang terus mengalir, kadang-kadang bisa mengalir cepat ke muara, kadang akan ada penghalang seperti batu atau sampah misalnya.

f. Sinekdoke

Ada dua macam jenis sinekdoke

  • Gaya bahasa yang menyebutkan sebagian kecil kata dari sesuatu untuk menyatakan secara keseluruhan adalah sinekdoke pars pro tato.

Contoh: Mungkin Agus sudah nyaman bekerja sebagai salesman dan menawarkan produk yang dijualnya dari “pintu” ke “pintu”. ( kata “pintu” ke “pintu” mewakili banyak rumah para konsumen)

  • Sinekdoke totem pro parte menyatakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian kecil, kebalikannya dari sinekdoke pars pro tato.

Contoh: Agnes Monica sangat terkenal, tidak heran jika ia menjadi idola oleh para “pemuda” yang ada di penjuru dunia.

(kata “pemuda” di kalimat tersebut bermaksud pada anak-anak usia muda, meskipun pada kenyataannya Agnes juga menjadi idola anak kecil pula)

g. Simbolik

Gaya bahasa yang menggambarkan sesuatu dengan memakai benda, binatang dan juga tumbuh-tumbuhan sebagai simbol disebut dengan simbolik.

Contoh : Aku suka sekali warna merah, karena merah melambangkan keberanian.

h. Metonimia

Gaya bahasa yang memakai ciri, atribut ataupun merk untuk menggambarkan suatu benda disebut dengan metonimia.

Contoh: Dila sedang keramas dengan shampo Pantene

Seperti itulah pengertian gaya bahasa beserta contoh kalimatnya. Sebagaimana yang tertera di dalam website Academic Indonesia. Semoga bermanfaat.